Jakarta, 1 September 2025 — Stabilitas sektor perbankan semakin terbukti menjadi salah satu senjata utama dalam memperkokoh fondasi ekonomi Indonesia. Direktur Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa perbankan nasional memiliki peran vital dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit yang sehat, pengelolaan risiko yang baik, serta pemeliharaan kepercayaan publik. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kekuatan perbankan menjadi instrumen strategis dalam menjaga roda perekonomian tetap berputar.
Kinerja Perbankan Terkini: Tetap Kuat dan Terkendali
Kinerja perbankan di Tanah Air tercatat tetap kuat hingga pertengahan 2025. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa rasio kecukupan modal (CAR) berada di atas 22 persen, menandakan permodalan yang sangat sehat. Kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) juga berhasil ditekan di bawah level 2,5 persen. Penyaluran kredit per Juni 2025 tumbuh sebesar 7,77 persen secara tahunan, mencapai Rp 8.059,79 triliun. Pertumbuhan itu didorong oleh peningkatan kredit investasi yang melonjak 12,53 persen, kredit konsumsi yang naik 8,49 persen, serta kredit modal kerja yang tumbuh 4,45 persen. Dari sisi pelaku, bank swasta nasional domestik mencatatkan kenaikan kredit tertinggi hingga 10,78 persen.
Jika ditelusuri lebih jauh, beberapa sektor ekonomi menjadi penopang utama peningkatan kredit. Sektor pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 20,69 persen, diikuti sektor jasa yang meningkat 19,17 persen, transportasi dan komunikasi sebesar 17,94 persen, serta sektor listrik, gas, dan air yang tumbuh 11,23 persen. Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 6,96 persen yoy menjadi Rp 9.329 triliun. Kenaikan terbesar berasal dari giro yang meningkat 10,35 persen, disusul tabungan 6,84 persen, dan deposito 4,19 persen.
Stabilitas ini turut ditopang oleh kondisi likuiditas yang sangat memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) berada di level 118,78 persen, sementara alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) tercatat 27,05 persen. Likuiditas yang kuat juga terlihat dari Liquidity Coverage Ratio (LCR) yang mencapai 199,04 persen. Kualitas kredit pun tetap terjaga, dengan NPL gross di angka 2,22 persen, NPL net 0,84 persen, dan Loan at Risk (LaR) yang menurun ke level 9,73 persen, hampir menyamai kondisi sebelum pandemi. Ketahanan permodalan semakin diperkuat dengan CAR yang meningkat menjadi 25,81 persen, sehingga bank-bank memiliki bantalan risiko yang kokoh dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
Tren BNPL dan Optimisme Ekonomi
Tren pembiayaan berbasis teknologi juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Fenomena Buy Now Pay Later (BNPL) mencatat baki debet sebesar Rp 22,99 triliun atau tumbuh 29,75 persen secara tahunan, dengan jumlah rekening mencapai 26,96 juta nasabah. Kondisi ini menandakan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital. Optimisme terhadap kinerja perbankan juga diperkuat oleh berbagai stimulus pemerintah, mulai dari kesepakatan tarif impor dengan Amerika Serikat, penurunan BI Rate, percepatan belanja negara, hingga pelaksanaan program-program produktif seperti Koperasi Merah Putih, pembangunan tiga juta rumah, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG). Semua program tersebut diproyeksikan membuka ruang pertumbuhan kredit yang lebih besar di masa mendatang.
LPS: Menjamin Kepercayaan Masyarakat
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pun menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi masyarakat untuk meragukan keamanan simpanan di bank. Setiap simpanan dijamin penuh sehingga kepercayaan publik tetap terjaga, sekalipun terjadi potensi kegagalan pada salah satu bank. Hal ini penting untuk mencegah kepanikan yang bisa mengganggu stabilitas sistem keuangan. Selain itu, kesadaran menabung masyarakat juga terus meningkat. Bank Indonesia mencatat, tingkat tabungan rumah tangga naik 8,7 persen dibanding tahun sebelumnya, didorong oleh program inklusi keuangan serta edukasi literasi keuangan yang gencar dilakukan pascapandemi.
Dengan kondisi permodalan yang tinggi, kualitas kredit yang sehat, likuiditas yang memadai, serta dukungan regulasi yang adaptif, perbankan Indonesia berada dalam posisi yang sangat kuat. Stabilitas sektor ini menjadi senjata strategis yang bukan hanya menopang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga ketahanan nasional di tengah ketidakpastian global.












