Kredit UMKM Melambat, OJK dan BI Dorong Penyaluran di Tengah Tantangan Global

Jakarta, 2 September 2025 — Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit perbankan masih perlu ditingkatkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pada Juli 2025, kredit perbankan tumbuh 7,03 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melambat dibanding pertumbuhan Juni 2025 yang mencapai 7,77 persen.

Dari sisi penawaran, meski BI telah menurunkan suku bunga, melonggarkan likuiditas, serta memberikan insentif kebijakan makroprudensial, bank masih berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Perbankan cenderung menempatkan kelebihan likuiditas pada instrumen surat berharga. Kondisi longgarnya likuiditas juga ditopang pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat 7 persen pada Juli 2025.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit masih didominasi sektor berorientasi ekspor seperti pertambangan dan perkebunan, serta transportasi, industri, dan jasa sosial. Namun secara keseluruhan, permintaan kredit pelaku usaha belum kuat karena masih mengandalkan pembiayaan internal. Pertumbuhan kredit konsumsi tercatat 8,11 persen, kredit modal kerja 3,08 persen, sementara kredit investasi tumbuh tinggi sebesar 12,42 persen. Pembiayaan syariah meningkat 8,31 persen, tetapi kredit UMKM hanya tumbuh 1,82 persen secara tahunan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan perlambatan kredit UMKM menjadi perhatian serius. Menurutnya, masih ada hambatan struktural, seperti keterbatasan literasi keuangan, minimnya agunan, hingga persepsi UMKM yang menganggap kredit sebagai beban. Dari sisi bank, kehati-hatian dalam menjaga kualitas kredit juga membuat penyaluran ke sektor UMKM lebih terbatas.

Meski demikian, OJK optimistis penyaluran kredit akan membaik seiring berbagai stimulus pemerintah. Sejumlah program seperti Koperasi Merah Putih, pembangunan tiga juta rumah, dan Makan Bergizi Gratis dinilai dapat menjadi peluang bagi bank untuk memperluas pembiayaan. “Sebagai upaya mendorong kinerja industri perbankan, OJK akan segera menerbitkan POJK tentang Akses Pembiayaan UMKM yang diharapkan meningkatkan penyaluran kredit ke sektor ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Dian.

Dari sisi ketahanan perbankan, OJK mencatat kualitas kredit masih terjaga. Rasio NPL gross turun hingga 2,22 persen, Loan at Risk (LaR) sebesar 9,73 persen, lebih rendah dari masa sebelum pandemi. Rasio permodalan (CAR) bank kecil dan menengah (KBMI 1 dan KBMI 2) bahkan tercatat di atas 30 persen, jauh di atas ambang batas. Stress test yang dilakukan OJK dan perbankan menunjukkan modal industri perbankan masih sangat memadai menghadapi guncangan ekonomi makro.

BI memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan tahun 2025 berada di kisaran 8–11 persen. Kolaborasi otoritas, pemerintah, dan perbankan diharapkan mampu membuka akses lebih besar bagi UMKM, yang selama ini menyerap lebih dari 60 persen tenaga kerja nasional. Akses kredit yang lebih luas akan menjadi kunci ketahanan ekonomi di tengah persaingan global.

“Bagi UMKM, kredit bukan sekadar tambahan modal, melainkan penopang utama agar usaha tetap bertahan, berinovasi, dan tumbuh. Dengan memastikan aliran kredit ke sektor ini, kita sedang mengamankan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih tangguh dan inklusif,” kata Dian menutup pernyataan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *